Subuh yang kelabu ( Kenangan Bersama Bapak)

Entah aku harus memulai dari mana, jemari ini mulai kaku, fikiran ini mulai kalut tuk bisa kembali mencurahkan isi hati ini yang penuh dengan segala gundah dan kerinduan.

Long time no see "My Blog" . . .

Yah butuh waktu lama tuk membuka kembali My blog ini, tempat pelarianku dikala kugundah, dikala kusedih dan ingin bercerita segala isi hati yg rapuh ini dalam bentuk tulisan dalam bentuk kata-kata yang dapat dikenang dan direnungi. Maafkan aku jika segala kegundahanku hanya bisa kusiratkan dalam tulisan walau tulisan itu kadang bertentangan dengan isi hatiku yang kualami saat itu.

Saat ini aku hanya ingin membuat kenangan tentang Bapak, Beliau adalah Ayahku yg kupanggil Bapak, yang kini Jasadnya telah terkubur yang kini segala tentangnya hanya tinggal kenangan, tinggal kerinduan.

Kala itu September 2022, saat-saat terakhir aku memeluk Bapak .Sehari sebelumnya saat aku akan beraktifitas seperti biasa aku mampir kerumah bapak, rumahku dan rumah bapak satu kompleks perumahan jadi agak dekat, saat itu Bapak kelihatan kurang sehat dan katanya kepalanya terasa pusing, aku hanya menyenangkan hati bapak dengan menawarinya susu dan roti dan berharap bapak bisa semangat lagi dan tidak kepikiran dengan keadaanya. Setelah kulihat keadaan bapak bisa semangat lagi akupun pamit tuk ke lokasi kerja dan menawari bapak akan membelikannya nanti makanan kesukaannya. Berhubung aktifitasku kadang sampai malam sepulang kerja akupun gak sempat mampir kerumah bapak karena kupikir bapak juga baru balik dari dokter dan harus beristrahat,aku hanya sempat Video Call dengan bapak tuk memastikan kondisinya, kata mamaku
hasil pemeriksaan dokter Alhamdulillah semuanya Normal dan tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, akupun melihat bapak dibalik Hp ku Beliau hanya tersenyum dan ingin istrahat,namun aku tak menduga itu tatapan terakhir bapak padaku.

Menjelang subuh tiba-tiba Hpku berbunyi,panggilan tlp dari mamaku agar menyuruhku segera kerumah bapak,tanpa fikir panjang aku dan suami serta anak-anakku bergegas ke rumah bapak,sempat terbesit ketakutan dihatiku jika aku akan kehilangan bapakku. Tiba dirumah bapak kulihat bapak dalam keadaan tidur dan mendengkur namun kuperhatikan kondisi bapak nampak seperti orang yang terkena strok krn bibirnya agak kaku dan miring dan selalu mengeluarkan air liur, hatiku miris dan berfikir bapak akan terkena sakit strok. Gak fikir panjang akupun meminta suami untuk segera ambil mobil dirumah tante untuk membawa bapak segera ke RS, Akupun berbaring disamping bapak dan gantian menjaga bapak berhubung mamaku semalaman terjaga mendampingi bapak yang katanya kondisinya mulai tengah malam selalu tersedak dan muntah.

Aku hanya bisa mengusap wajahnya,kepalanya dan memeluknya hingga akupun berbisik padanya tuk berkata "pak bapak janganq pergi dulu, aku sayang bapak,aku belum bisa membuat bapak bangga dan bahagia pak" dalam tangisku dan memeluk bapak dalam tidurnya, yang sampai saat ini aku hanya masih mengira bapak hanya tertidur beristrahat dalam lelahnya, Namun menjelang Subuh disaat mentari pagi mulai menampakkan sinarnya Bapakku pergi untuk selama-lamanya. Hanya Penyesalan dihati ini karena betapa bodohhnya aku yang saat itu masih belum sadar jika bapakku benar-benar tiada jika bapakku telah dijemput malaikat maut tuk pergi meniggalkan dunia ini selamanya. Aku tak sempat berfikir tuk menuntunnya mengucapkan "Syahadat" karena saat itu aku hanya berfikir bapak hanya tersedak saat lagi tidur dan muntah, aku panik dan khawatir dan berharap bapak segera dibawa ke RS, bahkan muntahnya bapak aku tanpa berfikir panjang tuk mengambil tempat untuk menadah muntahnya,aku hanya refleks menadah tanganku saat bapak muntah dan mamakupun mengambil air bersih untuk membersihkan muntah bapak, aku hanya berfikir kala itu bapak hanya tersedak seperti kebiasaan bapak yang selalu Tersedak jika saat minum dan tertidur, namun ternyata itu adalah untuk terakhir kalinya kumelihat bapak membuka matanya saat tertidur dan kembali tidur untuk selama-lamamnya. Aku yang masih belum sadar, setelah aku dan mamaku membersihkan bekas muntahnya dan sempat kuseka wajahnya dengan handuk aku tetap berfikir bapak kembali tidur, akupun kembali berbaring disamping bapak dan masih memeluk bapak yang kupikir bapak masih tidur sambil menunggu suamiku dan iparku datang ambil mobil, namun saat kupanggil Bapak tubuhnya sudah kaku dan tidak merespon lagi. Ya Allah dalam nalar fikiranku aku masih saja berkata dalam hati bapakku masih ada Ya Allah, Bapakku akan sadar dan akan bangun kembali seperti biasanya. Dalam keyakinanku yang masih belum bisa menerima Bapak pergi untuk selamanya aku dan keluarga bertekad membawa bapak ke RS, dengan bantuan tetangga kamipun mengangkat bapak ke mobil menuju RS.

Dalam perjalanan ke RS Bapak benar-benar sudah kaku namun aku masih berharap "mukjizad" bapak bisa tertolong. Gak sampai setengah jam kami tiba di RS yang terdekat dari rumah, adik iparku berkata biar dokter periksa bapak di atas mobil saja untuk mengetahui kondisi bapak yang sebenarnya. Saat Dokter datang dan mulai memeriksa bapak di dalam mobil,kulihat raut wajah dokter yang menandakan bapak benar-benar sudah tiada, alat pengukur tensi di lengan bapak tidak terbaca akan tanda-tanda kehidupan seketika badanku ini mulai lemas dan belum bisa menerima keadaan saat itu. 

Seketika memori kenangan-kenangan bersama bapak semua kembali dalam ingatanku, apalagi 3 hari menjelang kepergian bapak,bapak selalu kerumah kalau bukan sekedar mejemput anak-anakku kadang bapak sering ngobrol bersamaku,membawakan anak-anakku kue-kue tradisinal atau makanan, bahkan mengambil pakaian anak-anakku yang blum terlipat dan sempat dicuci untuk dibawa kerumahnya. Namun saat itu bapak tidak turun dari motornya, beliau hanya kasih pakaian anak-anakku yang sudah disterika dan dalam tatapannya yang kulihat kosong dan tidak melihatku langsung hanya berucap "Nia,rajin-rajinko Shalat, kita semua akan Mati" saat itu aku hanya menganggap itu nasehat yang seperti biasanya bapak ucapkan jikalau aku kadang malas tuk shalat namun saat kepergian bapak kata-kata terakhirnya itu sangat menusuk dihati,sangat menyakitkan seolah itu mengatakan beliau untuk diingat dalam doa kala beliau tlah tiada.

Setelah kepergian bapak untuk selamanya, banyak kisah dan cerita yang kudengar baik dari tetangga jikalau bapak adalah orang yang baik, bergantian tetangga datang kerumah bahkan bercerita kenangan tentang bapak. Yah dalam kesaksianku Bapakku adalah orang yang baik dan paling hebat, bapak tipikal orang yang mudah berbaur dan suka bercanda, bapak suka memberi walaupun itu tak seberapa nilainya, bapak orang yang gampang kasihan dan peduli dengan orang walau kadang kebaikan bapak itu pernah dimanfaatkan orang tuk berbuat gak baik padanya. Bapak memang tipikal orang yang mudah emosional (marah) serta tersinggung namun gak pernah dendam pada orang,namun kadang gengsi tuk terlihat memaafkan. Hal yang kutau sejak dulu bapak paling suka terhadap dunia anak-anak, peduli terhadap anak-anak dan cekatan dalam segala hal serta mandiri. Mungkin kebiasaan bapak semenjak muda mulai merantau tugas di kota orang dan hidup sendiri jadinya bapak serba bisa,saat masa purnabhaktinya dirumah bapak senang melakukan hal-hal kegiatan rumah tangga, beliau jago dalam hal masak memasak apalagi masak konro dan coto makanan kesukaannya, jago melakukan urusan pekerjaan rumah tangga dan tidak pernah kompromi jika dia ingin melakukannya sendiri dengan suka hati. 

Satu Hal yang kuingat saat aku sempat fakum didunia kerja 5 tahun karena ku hamil dan harus merawat anak-anakku yang masih balita, namun saat terpanggil kembali tuk balik didunia kerja hal yang paling utama kuminta pendapat dan pertimbangannya adalah bapakku, kenapa karena aku masih berfikir dengan anakku jika kukerja walau mereka sudah agak besar dan mudah diatur, bapak hanya berkata jika itu yang terbaik dan selama gak terlalu menguras waktu full kerja hingga anak-anak terabaikan silahkan. Bapak kadang kupercayakan tuk menjaga anakku jika aku harus kelokasi, akupun di dunia kerjaku tidak harus rutin full kerja kadang jika tidak ada keperluan yang mendesak dan penting aku kadang dirumah.

Semasa ku kecil bapak senang berdongeng dan bermain, kadang main sulap-sulap atau membuat kerajinan dari bahan seadanya, hingga saat masa-masanya bersama cucu-cucunya pun tak terlupakan beliau melakukan hal sama saat bersama anak-anaknya dulu. Namun saat masa remajaku bapak tipikal orang yang terlalu penuh dengan aturan yang kadang membatasi aktifitasku,yah mungkin karena bapak dunia kerjanya berkaitan dengan hukum dan penuh tindak kejahatan jadinya saat itu bapak sebagai orang tua penuh dengan kekhawatiran terhadap anak remajanya. Aku bahkan saat SMA dulu pernah melawan keras sikap bapak, mungkin saat itu sudah mulai berfikir sedikit memberontak dan menganggap hal yang kulakukan selama sma positif jadinya kumelawan bapak dan adu argumen sama bapak, aku hanya bisa membuktikan ke bapak segala pencapaian dan aktifitasku di sekolah dengan tidak membatasi aku tuk aktif di kegiatan sekolah, melihat cara fikirku dan aktifitasku bapak percaya padaku dan Alhamdulillah semenjak SMA hingga kulaihpun bapak selalu support dan bahkan lebih senang berbincang sama teman-temanku jika kerumah. Masa Kuliah rumah dinas bapak di makassar kadang sebagai tempat ngumpul teman-temanku karena mungkin teman juga merasa nyaman apalagi orang tuapun dirumah senang hati jika teman-teman kuliah main atau nginap dirumah. 

Aku kadang belajar dari sikap bapak yang sebagai orang tuaku, saat ini akupun berada diposisi beliau sebagai orang tua, tentunya orang tua memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan dan pergaulan anak-anaknya namun kita sebagai orang tua tak perlu terlalu keras menjudge atau membatasi aktifitas anak yang masa perkembangan remaja hingga deswasanya. Selama kita bisa melihat aktifitas anak yang positif baik dari penilaian sikap dan tutur katanya dan memantau gak berlebihan Insya Allah anak akan merasa nyaman bersama orang tua nya dan tetap mengajarkan kepada anak untuk selalu terbuka dan berani bercerita ataupun berbicara ke orang tua jika ada keluhan dan kesalahan. 

Setiap anak-anaknya memiliki watak dan pemikiran yang berbeda-beda. Aku dan Bapakku kadang tidak sepemikiran dan kadang sllu adu mulut namun aku pahami betul bapak dan mungkin bapak berfikir yang samapula padaku, jika kami beda pendapat kami saling berdebat namun tak pernah ada rasa benci dan marah berkepanjangan, aku mungkin disini tipe anak yang keras dan membantah namun aku paling terbuka dalam bertindak,berani berbicara dan memulai kata maaf hingga senang dan paling cepat menyenangkan bapak jadinya semarah apapun bapak padaku pastilah bapak paling mudah  ngombrolnya ke aku. Itulah mengapa aku selalu mengatakan bapakku adalah bapak terhebatku dan bapak terbaikku dan Dato' terbaik buat cucu-cucunya.

Bapak juga sosok Dato' (panggilan kakek dari cucu-cucunya) 2 pekan sebelum kepergian bapak, bapak benar-benar meluangkan waktu bermain dan bercanda bersama cucu-cucunya. Apalagi cucu paling terakhirnya kiyora, sempat berfikir setelah meninggalnya bapak kami menganggap itu pertanda bapak pamit pada cucu-cucunya. Entah dalam 2 pekan sebelum kepergian bapak, adikku bersama anak-anaknya nginap dirumah bapak.



-bersambung-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar